Kamis, 04 April 2019

Keutamaan Memuliakan dan Berbakti Kepada Orang Tua.


Kedua orang tua merupakan penyebab eksistensi (keberadaan) manusia di dunia ini. Oleh karena itu, sudah sepantasnya bahwa kita mempersembahkan bakti terbaik kepada kedua orang tua. Bakti tersebut bukan hanya karena hak orang tua yang harus dipenuhi oleh anak-anaknya, namun juga merupakan kewajiban yang bersifat pasti, yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Bahkan perintah berbakti kepada kedua orang tua telah disandingkan dengan perintah menyembah Allah dan larangan menyekutukan-Nya. Hal ini bermakna bahwa berbakti kepada kedua orang tua merupakan penyempurna bagi ibadah kepada Allah SWT.

Berdasarkan petunjuk hadits Rasulullah SAW, di antara akibat baik (pahala) dan akibat buruk (siksa) yang tidak akan ditangguhkan hingga hari kiamat adalah berbakti kepada kedua orang tua dan durhaka kepadanya. Bahkan dengan berbakti kepada kedua orang tua, terdapat berbagai keajaiban yang akan didapatkan oleh pelakunya. Begitu pula sebaliknya, siapa pun yang berlaku durhaka kepada kedua orang tua, maka akibat buruk pun akan segera didapatkannya.

1.       Amal yang paling utama

Berbakti kepada kedua orangtua merupakan salah satu amal yang paling utama.
Dari Abdullah bin Masud radhiyallahu anhu ia berkata
"Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, "Amalan apa yang paling dicintai Allah?" Beliau menjawab, "Salat pada waktunya." Aku melanjutkan, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Berbakti kepada kedua orangtua." Lalu aku bertanya lagi, "Kemudian apa?" Beliau menjawab, "Berjihad di jalan Allah." (HR. Al Bukhari dan Muslim)

2.       Kunci Masuk Surga

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.” Ada yang bertanya, “Siapa, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, ”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya ketika mereka telah tua, namun justru ia tidak masuk surga.”(HR. Muslim)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Orang tua adalah paling pertengahan dari pintu-pintu surga. Jika kamu mau, sia-siakanlah pintu itu (kau tidak mendapat surga) atau jagalah ia (untuk mendapatkan pintu surga itu).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Jahimah pernah datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lalu berkata, “Ya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku ingin berperang dan sungguh aku datang untuk meminta pendapatmu.” Beliau bertanya, “Apakah engkau masih memiliki ibu?”Ia menjawab, “Ya.” Maka beliau pun bersabda, “Tetaplah bersamanya karena sesungguhnya surga ada di kakinya.” (HR. Ibnu Majah dan An Nasa’i )
Dimudahkannya segala perkara
Perlu diketahui bahwa mungkin jika seseorang memiliki kesulitan dalam hidupnya adalah karena ia durhaka pada kedua orangtuanya dan apabila seseorang mendapatkan kebaikan dan kemudahan dalam perkaranya adalah mungkin karena perbuatan baik dan baktinya kepada orangtua. Oleh sebab itu seorang muslim hendaknya senantiasa berbakti pada orangtua dan berusaha merawat mereka dengan sebaik mungkin sehingga Allah SWT berkenan menghilangkan segala kesulitan hidup yang dialami oleh orang tersebut

3.        Memudahkan jalan kita untuk sukses

Bila ingin sukses, maka berbaktilah kepada orang tua. Dan jadikanlah orang tua sebagai alasan terkuat kita untuk sukses. Karena niat yang baik akan selalu dimudahkan dan dikabulkan oleh Allah. Apalagi doa hanya untuk sukses, ini suatu hal mudah yang bagi Allah. Jika Allah sudah berkata “Jadilah!” maka terjadi lah hal tersebut. Nah, agar apa yang kita inginkan terjadi, "sogoklah" Allah untuk menjadikan kita sukses dengan berbakti kepada kedua orang tua kita. Buatlah mereka senang. Dengan begitu, Allah pun akan senang hati memberi kita kesuksesan yang kita inginkan.

4.       Memperoleh ampunan Allah

“Siapa yang mendapati salah satu dari kedua orang tuanya kemudian ia tidak diampuni, maka Allah telah menjauhkannya (dari rahmat)” (HR. Ahmad)

5.       Kunci Panjang Umur & Banyak Rejeki

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
“Siapa yang suka untuk dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki, maka berbaktilah pada orang tua dan sambunglah tali silaturahmi (dengan kerabat).” (HR. Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohih At Targib wa At Tarhib mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi, yaitu hasan dilihat dari jalur lainnya).


Selasa, 02 April 2019

Tips Umrah Berkah


Umroh merupakan salah satu kegiatan ibadah yang disunahkan untuk dilakukan oleh setiap muslim yang mampu.
Memiliki pengetahuan bagaimana keadaan di tanah suci ataupun bagaimana prosesi umroh itu sendiri, akan membantu Anda dalam menjalankan ibadah umroh.

1. Pelajari Hal-Hal Terkait Haji dan Umroh

Haji dan umroh adalah perjalanan ibadah yang sangat panjang. Selain itu, rangkaian ibadahnya juga sangat padat, dan kadang bagi sebagian orang sangat memusingkan. Terlebih lagi jika mereka tidak mengerti seluk-beluk haji dan umroh. Jadi sebelum ke Tanah Suci, hendaknya Anda mempelajari dasar-dasar kegiatan yang akan dilakukan di sana. Dengan begitu segala hal akan berjalan lancar dan Anda akan mendapatkan pengalaman yang berharga.

2. Pergi Dengan Hati yang Mantap

Pergi ke Tanah Suci adalah perkara yang sangat besar. Anda harus siap, baik secara fisik ataupun hati. Persiapan fisik salah satunya dengan menjaga kesehatan. Sedangkan kesiapan hati harus Anda latih jauh-jauh hari, seperti mulai memperbaiki kualitas ibadah. Perjalanan haji dan umroh tak hanya perjalanan ibadah yang panjang, tapi juga perjalanan hati dan jiwa agar bisa lebih dekat kepada Sang Pencipta. Jika hati belum siap, bagaimana Anda bisa menerima hidayah-Nya?

3. Selalu Sabar Dalam Kekacauan

Setiap tahun ada jutaan orang melakukan ibadah haji. Artinya, Anda akan bertemu dengan banyak sekali kerumunan jemaah. Kekacauan kemungkinan besar terjadi. Melihat ini, Anda harus banyak-banyak bersabar. Semua orang juga merasakannya. Daripada pusing dan emosi, lebih baik Anda berkonsentrasi dan banyak-banyak membaca doa. Semoga Allah memudahkan perjalanan Anda dengan cara-Nya.

4. Waktu adalah Sesuatu yang Berharga

Dalam ibadah haji dan umroh, waktu adalah sesuatu yang berharga. Kita tak boleh terlalu malas, apalagi sampai mengorbankan jemaah yang lain. Segala hal berjalan dengan cepat saat ibadah besar ini berlangsung. Telat sedikit bisa membuat Anda kehilangan kesempatan untuk beribadah, dan haji atau umroh Anda jadi tidak sempurna. Anda memang bisa membayar denda, namun bukankah sesuatu yang sempurna dengan sendirinya itu jauh lebih baik? Jadi, hargai waktu agar Anda selalu mendapatkan sesuatu yang berharga di Tanah Suci.

5. Perjalanan Ini Bukanlah Wisata Agama, Tapi Ibadah

Haji dan umroh bukanlah sebuah perjalanan wisata. Perjalanan ini adalah ibadah. Itulah mengapa sebelum berangkat Anda harus menyiapkan hati. Dan saat sudah sampai di Tanah Suci, Anda harus bisa menempatkan diri. Jangan melakukan hal-hal tak berguna, seperti selalu update di sosial media, foto selfie, atau hal-hal lain yang justru menurunkan kadar ibadah dan mengurangi pahala karena riya. Haji dan umroh ini sangat sakral, jadi saat menjalankannya Anda harus bersungguh-sungguh.

6. Maknai Ibadahnya dengan Mendalam

Kita tak perlu banyak bicara saat berada di Tanah Suci. Kita tak perlu juga terlalu gembira hingga harus mengungkapkannya pada dunia. Yang bisa Anda lakukan adalah dengan memaknai ibadah itu. Menyelami segala hal dengan hati agar perjalanan jauh dan panjang ini tak jadi sia-sia.

7. Selalu Melakukan Kebaikan

Terakhir namun juga sangat penting: lakukan kebaikan terus-menerus. Dengan melakukan kebaikan, semoga Allah akan membuat kita selalu aman dan nyaman selama melaksanakan ibadah. Dan yang lebih penting lagi, segala pengalaman berharga akan tercipta dengan sendirinya tanpa perlu dicari.

Sabtu, 30 Maret 2019

Keutamaan Bersidekah Dalam Kehidupan Sehari-hari


Islam mengajarkan kepada umatnya agar menjaga hubungan baik dengan Allah dengan cara menjalankan kewajiban yang telah diperintahkan, serta menjalin hubungan yang baik dengan sesama manusia. Ini bertujuan agar ia mendapatkan kesempurnaan perbuatan yang dilakukan sehingga menjadi manusia yang beruntung di dunia dan akhirat.
Dunia ini tak akan cepat hancur bila masih terjalin hubungan yang baik antara si kaya dan si miskin. Orang kaya memiliki harta, orang miskin mempunyai kekuatan doa, keduanya saling membutuhkan satu dan yang lainnya.

1.       Sedekah dapat menghapus dosa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)
Diampuninya dosa dengan sebab sedekah di sini tentu saja harus disertai taubat atas dosa yang dilakukan. Tidak sebagaimana yang dilakukan sebagian orang yang sengaja bermaksiat, seperti korupsi, memakan riba, mencuri, berbuat curang, mengambil harta anak yatim, dan sebelum melakukan hal-hal ini ia sudah merencanakan untuk bersedekah setelahnya agar ‘impas’ tidak ada dosa. Yang demikian ini tidak dibenarkan karena termasuk dalam merasa aman dari makar Allah, yang merupakan dosa besar. Allah Ta’ala berfirman:
“Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah? Tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al A’raf: 99)

2.       Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan di hari akhir

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di suatu, hari yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah, yaitu hari akhir. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah:
“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.” (HR. Bukhari no. 1421)

3.       Sedekah gak bikin bangkrut. 

Sebaliknya, rezekimu jadi lebih lancar dan berkah
Gak Perlu Nunggu Kaya, Ini Lho 5 Keuntungan Bila Kamu Rajin Sedekahkmtpartners.com.au
Jangan pernah berpikir bahwa sedekah membuatmu bangkrut. Itu salah! Sebaliknya, dengan rajin bersedekah makan rezekimu akan dilancarkan oleh Tuhan dan pastinya jadi lebih berkah.
Kamu pun nggak perlu nunggu kaya buat sedekah. Berbagi itu gak harus dengan uang yang banyak. Meski hanya dengan segelas air putih atau seulas senyuman, itu udah termasuk sedekah lho!

4.       Sedekah digandakan 700 kali ganda.

Fadhilah bagi orang yang bersedekah amat besar sebagai mana terdapat keterangan di dalam al-Quran dan hadits. Jika kita amati ayat al-Quran berikut, kita akan dapat mengira bahawa sekurang-kurangnya setiap harta yang dikeluarkan ke jalan Allah akan dibalas dengan perkiraan melebihi 700 kalinya. Selain itu, mereka dijanjikan dengan kehidupan yang mudah:
Allah Ta’ala berfirman: “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir seratus biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki . Dan Allah maha luas (kurnia-Nya) lagi maha mengetahui” . (Al Baqarah (2) : 261)

5.       Allah Lipat-gandakan Ganjaran orang yang Bersedekah.

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki mahupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)

6.       Bersedekah Menjauhkan Diri dari Azab

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-thabrani dijelaskan bahwa menolak sedekah bisa mendatangkan azab bagi suatu kaum. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Tiada suatu kaum menolak mengeluarkan zakat melainkan Allah menimpa mereka dengan paceklik (kemarau panjang dan kegagalan panen).”
Sedekah memiliki kekuatan yang luar biasa dan bagaimana peringatan Allah terhadap orang atau masyarakat yang enggan bersedekah. Jika kita perhatikan, musim kemarau panjang, gagal panen, dan bencana alam lain yang terjadi akhir-akhir ini, bisa jadi merupakan teguran dari Allah atas umatnya yang jarang bersedekah dan kerap lupa memberikan hak-hak fakir miskin yang ada di sekitarnya.

Dalam hadis lain juga dijelaskan bagaimana di akhirat nanti sikap enggan bersedekah akan menyulitkan manusia itu sendiri.
“Barang siapa diberi Allah harta dan tidak menunaikan zakatnya, kelak pada hari kiamat dia akan dibayang-bayangi dengan seekor ular bermata satu di tengah dan punya dua lidah yang melilitnya. Ular itu mencengkeram kedua rahangnya seraya berkata, “Aku hartamu, aku pusaka simpananmu.”

Kemudian Nabi Muhammad Saw. membaca firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 180, yang artinya :
“Dan janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi.” (HR. Bukhari)



Jumat, 29 Maret 2019

Manfaat Shalat Tepat Waktu


ALLAH Subhanahu wa Ta’ala sangat mencintai hamba-hamba-Nya yang selalu mendahulukan urusan-Nya. Termasuk dalam hal ini shalat di awal waktu. Ya, shalat di awal waktu, membuat Allah cinta pada kita. Tapi sayang, hanya sedikit orang yang mau melaksanakan hal itu.
Tahukah Anda, bahwa selain dicintai oleh Allah, ada manfaat lain yang dapat kita rasakan jika shalat di awal waktu? Selain memiliki keutamaan, shalat tepat waktu akan memberikan manfaat lain yang luar biasa dalam kehidupan kita. Apa sajakah itu?

Keutamaan tersebut disampaikan oleh Khalifah Usman bin Affan. Manfaat lain dari shalat tepat waktu yaitu:

a.       Disiplin
Indonesia sudah banyak dibicarakan dengan terkenalnya suka tidak tepat waktu. Tugas kita untuk membuktikan bahwa hal itu tidak benar. Dari hal membiasakan shalat tepat waktu maka akan tumbuh sikap disiplin pada diri kita. Dalam hal tepat waktu juga akan menyebar pada kegiatan lain.

b.      Memprioritaskan Allah
Secara tak langsung kita sudah menomorduakan Allah dengan ska menunda-nunda shalat karena duniawi. Na’udzubillah. Allah akan mendengarkan doa umatnya yang memprioritaskan Allah.

c.       Pandai mengatur
Banyak halangan ketika ingin menjalankan shalat teapat waktu misalnya masih dalam perjalanan atau merasa lapar. Jika sudah mengetahui jadwalnya kita bisa memanajemen waktu dan kegiatan kita sendiri dengan menunda untuk bepergian atau berencana untuk shalat di jalan.

d.      Menggugurkan dosa
Rasulullah saw bersabda “Sesungguhnya seorang hamba yang muslim, jika menunaikan shalat dengan ikhlas karena Allah, maka dosa-dosa akan berguguran seperti daun berguguran. (HR. Ahmad).

e.       Shalat tepat waktu dicintai Allah melebihi berbakti pada orangtua dan berjihad
Shalat awal waktu dicintai Allah, karena saat seorang hamba bergegas melakukan shalat di awal waktu, maka itu adalah salah satu ciri yang membuktikan kecitaannya pada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah Shalat pada waktunya, Berbakti kepada kedua orang tua, dan Jihad di jalan Allah.” (HR Bukhari & Muslim).

f.         Surga adalah balasannya
Dan balasan yang telah Allah janjikan bagi seorang hamba yang senantiasa menyegerakan shalatnya di awal waktu adalah surga. Kebahagiaan dan keindahan abadi itu telah Allah persiapkan bagi hamba yang senantiasa berlari ke arah-Nya.
Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Abu Qatadah bin Rib’iy mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ” ‘Sesungguhnya Aku mewajibkan umatmu shalat lima waktu, dan Aku berjanji bahwa barangsiapa yang menjaga waktu-waktunya pasti Aku akan memasukkannya ke dalam surga, dan barangsiapa yang tidak menjaganya maka dia tidak mendapatkan apa yang aku janjikan”.

g.        Dampuninya dosa
Orang yang shalat tepat waktu berarti telah memprioritaskan Allah dan mengikhlaskan dirinya menghadap Allah di waktu terbaik, oleh sebab itu orang yang menghadap Allah dengan ikhlas seperti ini akan digugurkan dosa-dosanya sebagaimana gugurnya dedaunan dari pohonnya.
“Sesungguhnya seorang hamba yang muslim, jika menunaikan shalat dengan ikhlas karena Allah, maka dosa-dosanya akan berguguran seperti gugurnya daun-daun ini dari pohonnya” (HR. Ahmad).

h.       Pahala kebaikan yang amat besar
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah pernah bersabda, “…Seandainya orang-orang mengetahui pahala azan dan barisan (shaf) pertama, lalu mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan ikut undian, niscaya mereka akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui pahala menyegerakan shalat pada awal waktu, niscaya mereka akan berlomba-lomba melaksanakannya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan jalan merangkak.” (HR. Bukhari)

i.       Memperoleh sembilan macam kemuliaan
Utsman bin ‘Affan RA berkata: “Barang siapa selalu mengerjakan shalat lima waktu tepat pada waktu utamanya, maka Allah akan memuliakannya dengan sembilan macam kemuliaan, yaitu dicintai Allah, badannya selalu sehat, eberadaannya selalu dijaga malaikat, umahnya diberkahi, wajahnya menampakkan jati diri orang shalih, hatinya dilunakkan oleh Allah, dipermudah saat akan menyeberang Shirath (jembatan di atas neraka) seperti kilat, dia akan diselamatkan Allah dari api neraka dan Allah Akan menempatkannya di surga kelak bertetangga dengan orang-orang yang tidak ada rasa takut bagi mereka dan tidak pula bersedih hati.

Inilah beberapa keutamaan yang hanya akan didapatkan mereka yang senantiasa menyegerakan shalat tepat waktu setiap saatnya.

Selasa, 26 Maret 2019

Pentingnya Berilmu


Manusia diciptakan dengan segala kesempurnaannya, dan Allah telah memberikan akal yang sehat pada manusia untuk membedakannya dengan makhluk hidup lainnya. Dan dengan akal tersebut manusia diwajibkan untuk mencari ilmu pengetahuan dan memiliki ilmu pengetahuan dalam segala hal agar tidak tersesat dalam menjalani kehidupan. Ilmu pengetahuan ibarat sebuah cahaya yang akan menuntun manusia hingga mencapai tujuan penciptaan manusia menurut Islam.

Menuntut ilmu dalam islam memang diwajibkan. Karena dengan mempunyai bekal ilmu yang bermanfaat, anda akan bisa mewariskannya dan membagikannya sehingga bisa digunakan sebagai amalan yang tidak akan terputus jika masih digunakan secara terus menerus. Tentu saja anda tidak akan menyia-nyiakannnya ya sobat. Dengan berilmu maka Allah SWT akan meninggikan kita beberapa derajat.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda :

“Jika seseorang meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga hal. Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak yang sholeh atau sholehah.” (HR. Muslim)

Namun yang perlu anda sadari dan pahami, di masyarakat tidak jarang ditemukan banyak orang yang enggan membagikan ilmu yang dimilikinya karena mereka khawatir akan muncul pesaing yang bisa mengancam dirinya. Padahal sudah jelas pernyataan dari sabda Rasulullah SAW :

Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang ditanya tentang suatu ilmu pengetahuan lalu ia menyembunyikannya, maka pada hari kiamat kelak Allah SWT akan mengekangnya dengan kekang api neraka.” (HR Abu Dawud dan Imam Tirmidzi)

Menuntut ilmu itu wajib bagi Muslim maupun Muslimah. Ketika sudah turun perintah Allah yang mewajibkan suatu hal, sebagai muslim yang harus kita lakukan adalah sami’na wa atha’na, kami dengar dan kami taat. Sesuai dengan firman Allah Ta ‘ala:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

  “Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul itu memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat”. Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.” (QS. An-Nuur [24]: 51).

Sebagaimana kita meluangkan waktu kita untuk shalat. Ketika waktu sudah menunjukkan waktu shalat pasti kita akan meluangkan waktu untuk shalat walaupun misal kita sedang bekerja dan pekerjaan kita masih banyak. Kita akan tetap meninggalkan aktivitas kita dan segera mengerjakan shalat. Maka begitupun sebaiknya yang harus kita lakukan dengan menuntut ilmu.

Keutamaan-Keutamaan Ilmu Dan Pemilik Ilmu

Hal yang disayangkan ternyata beberapa majelis ilmu sudah tidak memiliki daya magnet yang bisa memikat umat Islam untuk duduk di sana, bersimpuh di hadapan Allah untuk meluangkan waktu mengkaji firman-firman Allah ‘Azza wa Jalla dan hadist nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita lebih senang menyia-nyiakan waktu bersama teman-teman, menghabiskan waktu di instagram, twitter, atau media sosial lain dibandingkan duduk di majelis ilmu. Ada banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi. 

Salah satunya adalah karena umat Islam belum mengetahui keutamaan dan keuntungan, mempelajari ilmu agama. Kita belum mengetahui untungnya duduk berjam-jam di majelis ilmu mengkaji ayat-ayat Allah. Kalau kita tidak mengetahuinya, kita tidak akan duduk di majelis ilmu. Karena fitrah manusia memang bertindak sesuai asas keuntungan. Faktanya, kalau kita tidak mengetahui keuntungan atau manfaat suatu hal maka kita tidak akan melakukan hal itu. Begitu juga dengan ibadah. Maka dari itu, semakin kita belajar dan mengetahui keuntungan-keuntungan salat, puasa, zakat, maka kita akan semakin semangat menjalaninya. Ini yang seharusnya kita sadari. Oleh karena itu, kita harus mengetahui keutamaan dan keuntungan menuntut ilmu. Terdapat banyak dalil dari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya terkait keutamaan ilmu dan pemilik ilmu. Di antaranya adalah:

Ilmu Menyebabkan Dimudahkannya Jalan Menuju Surga

Hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Ilmu Adalah Warisan Para Nabi

 Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh hadits,

اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَامًا، وَلَكِنْ وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang cukup.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah; dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no. 6297).

Ilmu Akan Kekal Dan Akan Bermanfaat Bagi Pemiliknya Walaupun Dia Telah Meninggal
Disebutkan dalam hadits,

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang berdoa untuknya” (HR. Muslim).

Allah Tidak Memerintahkan Nabi-Nya Meminta Tambahan Apa Pun Selain Ilmu
Allah berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا


“Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu“. (QS. Thaaha [20] : 114). Ini dalil tegas diwajibkannya menuntut ilmu.

Orang Yang Dipahamkan Agama Adalah Orang Yang Dikehendaki Kebaikan

Dari Mu’awiyah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim No. 1037).

Yang dimaksud faqih dalam hadits bukanlah hanya mengetahui hukum syar’i, tetapi lebih dari itu. Dikatakan faqih jika seseorang memahami tauhid dan pokok Islam, serta yang berkaitan dengan syari’at Allah. Demikian dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Kitabul ‘Ilmi (hal. 21).

Yang Paling Takut Pada Allah Adalah Orang Yang Berilmu

 Hal ini bisa direnungkan dalam ayat,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir: 28).

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308).

Para ulama berkata,

من كان بالله اعرف كان لله اخوف

“Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah”.

Orang Yang Berilmu Akan Allah Angkat Derajatnya

 Allah Ta’ala berfirman:

 يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ..

“…Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).

Allah Subhanahu wa Ta ‘ala berfirman,

وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ


“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al-Mulk : 10).


Senin, 25 Maret 2019

3 Amalan Besar yang Pahalanya Menyerupai haji



Setiap umat muslim tentunya ingi menyempurnakan islam nya dengan memenuhi rukun islam yang ke-5 yaitu menunaikan ibadah haji. Namun, tidak semua  orang dapat berangkat berziarah langsung mengunjungi ka’bah ke kota mekah. Karena haji dilakukan oleh umat muslim yang mampu secara fisik maupun materi, mampu melaksanakan perjalanan dan dapat mendukung kluarga mereka ketika mereka ketidakhadiran mereka. Dalam al-quran surah Ali Imron: 97 di sebut bahwa :

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (Q.S. Ali Imran: 97).

Namun, bagi yang belum bisa melaksanakan ibadah haji, janganlah bersedih dan putus asa, karena Allah S.W.T sungguhlah maha penyayang umat-NYA. Allah s.w.t akan memberikan pahala dan ganjaran yang lebih besar bagi umat-NYA yang beramal shaleh dengan ikhlas dan tidak ada putusnya.
Amalan saleh tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, salat lima waktu berjamaah di masjid. Seperti halnya yang dijelaskan dalam Al-Mu’jam Al-Kabir.Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Muhammad bersabda:
“Siapa yang berjalan menuju salat wajib berjamaah, maka ia seperti berhaji. Siapa yang berjalan menuju salat sunnah, maka ia seperti melakukan umrah yang sunnah.”

Kedua, melakukan salat isyraq. Menunaikannya yaitu dengan salat subuh berjamaah di masjid dan dilanjutkan dengan berzikir hingga matahari terbit setinggi tombak (kira-kira 15 menit setelah matahari terbit) serta menyempurnakan dengan salat sunnah dua rakaat (biasa disebut salat isyraq atau salat Duha di awal waktu). Dari Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:
“Barangsiapa yang mengerjakan salat Subuh berjamaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan salat sunnah Duha, maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumrah secara sempurna.”

Ketiga, menghadiri majelis ilmu di masjid. Masjid tidak hanya untuk salat semata, sering sekali beberapa kajian ilmiah atau kajian keislaman bertempat di masjid. Turut serta dan hadir dalam kajian tersebut mampu mendatangakan pahala sebesar pahala ibadah haji. Dari Umamah radhiyallahu ‘anhu, Nabi bersabda:

“Siapa yang berangkat ke masjid yang ia inginkan hanyalah untuk belajar kebaikan atau mengajarkan kebaikan, ia akan mendapatkan pahala haji yang sempurna hajinya.”

Senin, 18 Maret 2019

Keistimewaan Umrah Pada Bulan Ramadhan



Umrah sudah kita ketahui keutamaannya. Sebagaimana amalan ada yang memiliki keistimewaan jika dilakukan pada waktu tertentu, demikian pula umrah. Umrah di bulan Ramadhan terasa sangat istimewa dari umrah di bulan lainnya yaitu senilai dengan haji bahkan seperti haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah. Segala ibadah dan kebaikan yang ada di dalamnya akan dibalas dengan pahala yang berlipat ganda. Dan salah satu ibadah yang dianjurkan dilakukan di bulan Ramadhan selain puasa ramadhan dan cara pelaksanaannya yang merupakan rukun Islam, melakukan ibadah umroh di bulan Ramdhan juga sangat disarankan.
Setiap ibadah memiliki waktu-waktu utama dalam menjalankannya. Termasuk juga dalam ibadah umrah. Jika dilaksanakan pada bulan Ramadan, maka pahala umrah senilai dengan ibadah haji. Hal itu, sebagaimana dikatakan dalam hadis Nabi saw.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً

Dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi saw. bersabda, “Umrah di bulan Ramadan senilai dengan haji.” (HR. Ahmad).
Bahkan, dalam hadis lain dikatakan bahwa umrah di bulan Ramadan senilai dengan haji bersama Nabi saw.

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا رَجَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حَجَّتِهِ قَالَ لِأُمِّ سِنَانٍ الْأَنْصَارِيَّةِ مَا مَنَعَكِ مِنْ الْحَجِّ قَالَتْ أَبُو فُلَانٍ تَعْنِي زَوْجَهَا كَانَ لَهُ نَاضِحَانِ حَجَّ عَلَى أَحَدِهِمَا وَالْآخَرُ يَسْقِي أَرْضًا لَنَا قَالَ فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً مَعِي

Dari Ibnu Abbas berkata, “Sepulangnya Nabi saw. setelah melaksanakan haji, beliau berkata kepada Ummu Sinan al-Anshari, ‘Apa yang menghalangimu untuk ikut melaksanakan haji?’ Ummu Sinan menjawab, ‘Bapaknya si fulan (maksudnya suaminya) memiliki dua unta. Unta yang satu ia gunakan untuk berhaji, sedangkan unta yang lainnya digunakan untuk mengairi kebun.’ Kemudian Nabi Saw berkata, ‘Sesungguhnya Umrah di bulan Ramadan senilai dengan haji bersamaku.’ (HR. Al-Bukhari).

Apa yang dimaksud senilai dengan haji?

Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Yang dimaksud adalah umrah Ramadhan mendapati pahala seperti pahala haji. Namun bukan berarti umrah Ramadhan sama dengan haji secara keseluruhan. Sehingga jika seseorang punya kewajiban haji, lalu ia berumrah di bulan Ramadhan, maka umrah tersebut tidak bisa menggantikan haji tadi.” (Syarh Shahih Muslim, 9:2)

Apakah umrah Ramadhan bisa menggantikan haji yang wajib?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah (ketua Komisi Fatwa Kerajaan Saudi Arabia di masa silam) pernah menerangkan maksud umrah Ramadhan seperti berhaji bersama Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau mendapat pertanyaan, “Apakah umrah di bulan Ramadhan bisa menggantikan haji berdasarkan sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa berumrah di bulan Ramadhan maka ia seperti haji bersamaku”?

Jawaban Syaikh rahimahullah, “Umrah di bulan Ramadhan tidaklah bisa menggantikan haji. Akan tetapi umrah Ramadhan mendapatkan keutamaan haji berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Umrah Ramadhan senilai dengan haji.” Atau dalam riwayat lain disebutkan bahwa umrah Ramadhan seperti berhaji bersama Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, yaitu yang dimaksud adalah sama dalam keutamaan dan pahala. Dan maknanya bukanlah umrah Ramadhan bisa menggantikan haji. Orang yang berumrah di bulan Ramadhan masih punya kewajiban haji walau ia telah melaksanakan umrah Ramadhan, demikian pendapat seluruh ulama. Jadi, umrah Ramadhan senilai dengan haji dari sisi keutamaan dan pahala. Namun tetap tidak bisa menggantikan haji yang wajib.” [Fatawa Nur ‘ala Darb, Syaikh Ibnu Baz]