Manusia
diciptakan dengan segala kesempurnaannya, dan Allah telah memberikan akal yang
sehat pada manusia untuk membedakannya dengan makhluk hidup lainnya. Dan dengan
akal tersebut manusia diwajibkan untuk mencari ilmu pengetahuan dan memiliki
ilmu pengetahuan dalam segala hal agar tidak tersesat dalam menjalani
kehidupan. Ilmu pengetahuan ibarat sebuah cahaya yang akan menuntun manusia
hingga mencapai tujuan penciptaan manusia menurut Islam.
Menuntut ilmu
dalam islam memang diwajibkan. Karena dengan mempunyai bekal ilmu yang
bermanfaat, anda akan bisa mewariskannya dan membagikannya sehingga bisa
digunakan sebagai amalan yang tidak akan terputus jika masih digunakan secara
terus menerus. Tentu saja anda tidak akan menyia-nyiakannnya ya sobat. Dengan
berilmu maka Allah SWT akan meninggikan kita beberapa derajat.
Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda :
“Jika seseorang
meninggal dunia maka terputuslah segala amalnya, kecuali tiga hal. Sedekah
jariyah, ilmu yang bermanfaat dan do’a anak yang sholeh atau sholehah.” (HR.
Muslim)
Namun yang perlu
anda sadari dan pahami, di masyarakat tidak jarang ditemukan banyak orang yang
enggan membagikan ilmu yang dimilikinya karena mereka khawatir akan muncul
pesaing yang bisa mengancam dirinya. Padahal sudah jelas pernyataan dari sabda
Rasulullah SAW :
Rasulullah SAW
bersabda: “Barang siapa yang ditanya tentang suatu ilmu pengetahuan lalu ia
menyembunyikannya, maka pada hari kiamat kelak Allah SWT akan mengekangnya
dengan kekang api neraka.” (HR Abu Dawud dan Imam Tirmidzi)
Menuntut ilmu
itu wajib bagi Muslim maupun Muslimah. Ketika sudah turun perintah Allah yang
mewajibkan suatu hal, sebagai muslim yang harus kita lakukan adalah sami’na wa
atha’na, kami dengar dan kami taat. Sesuai dengan firman Allah Ta ‘ala:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ
إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ
وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا
وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ
الْمُفْلِحُونَ
“Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman
apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul itu
memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami
mendengar dan kami taat”. Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.”
(QS. An-Nuur [24]: 51).
Sebagaimana kita
meluangkan waktu kita untuk shalat. Ketika waktu sudah menunjukkan waktu shalat
pasti kita akan meluangkan waktu untuk shalat walaupun misal kita sedang
bekerja dan pekerjaan kita masih banyak. Kita akan tetap meninggalkan aktivitas
kita dan segera mengerjakan shalat. Maka begitupun sebaiknya yang harus kita
lakukan dengan menuntut ilmu.
Keutamaan-Keutamaan
Ilmu Dan Pemilik Ilmu
Hal yang
disayangkan ternyata beberapa majelis ilmu sudah tidak memiliki daya magnet
yang bisa memikat umat Islam untuk duduk di sana, bersimpuh di hadapan Allah
untuk meluangkan waktu mengkaji firman-firman Allah ‘Azza wa Jalla dan hadist
nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kita lebih senang menyia-nyiakan waktu
bersama teman-teman, menghabiskan waktu di instagram, twitter, atau media
sosial lain dibandingkan duduk di majelis ilmu. Ada banyak faktor yang menyebabkan
hal ini terjadi.
Salah satunya adalah karena umat Islam belum mengetahui
keutamaan dan keuntungan, mempelajari ilmu agama. Kita belum mengetahui
untungnya duduk berjam-jam di majelis ilmu mengkaji ayat-ayat Allah. Kalau kita
tidak mengetahuinya, kita tidak akan duduk di majelis ilmu. Karena fitrah
manusia memang bertindak sesuai asas keuntungan. Faktanya, kalau kita tidak
mengetahui keuntungan atau manfaat suatu hal maka kita tidak akan melakukan hal
itu. Begitu juga dengan ibadah. Maka dari itu, semakin kita belajar dan
mengetahui keuntungan-keuntungan salat, puasa, zakat, maka kita akan semakin
semangat menjalaninya. Ini yang seharusnya kita sadari. Oleh karena itu, kita
harus mengetahui keutamaan dan keuntungan menuntut ilmu. Terdapat banyak dalil
dari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya terkait keutamaan ilmu dan pemilik ilmu.
Di antaranya adalah:
Ilmu Menyebabkan
Dimudahkannya Jalan Menuju Surga
Hal ini
sebagaimana ditunjukkan oleh hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا
يَلْتَمِسُ
فِيْهِ
عِلْمًا،
سَهَّلَ
اللهُ
لَهُ
بِهِ
طَرِيْقًا
إِلَى
الْجَنَّةِ
“Barang siapa
menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya
jalan menuju surga.” (HR. Muslim).
Ilmu Adalah
Warisan Para Nabi
Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh hadits,
اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
وَإِنَّ
الْأَنْبِيَاءَ
لَمْ
يُوَرِّثُوْا
دِيْنَارًا
وَلَا
دِرْهَامًا،
وَلَكِنْ
وَرَّثُوْا
الْعِلْمَ،
فَمَنْ
أَخَذَهُ
أَخَذَ
بِحَظٍّ
وَافِرٍ
“Para ulama
adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun
dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia
telah mengambil bagian yang cukup.” (HR. Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu
Majah; dinyatakan shahih oleh asy-Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ no.
6297).
Ilmu Akan Kekal
Dan Akan Bermanfaat Bagi Pemiliknya Walaupun Dia Telah Meninggal
Disebutkan dalam hadits,
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ
عَمَلُهُ
إِلَّا
مِنْ
ثَلَاثٍ:
صَدَقَةٍ
جَارِيَةٍ،
أَوْ
عِلْمٍ
يُنْتَفَعُ
بِهِ،
أَوْ
وَلَدٍ
صَالِحٍ
يَدْعُو
لَهُ
“Jika seorang manusia meninggal, terputuslah
amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau
anak shalih yang berdoa untuknya” (HR. Muslim).
Allah Tidak Memerintahkan
Nabi-Nya Meminta Tambahan Apa Pun Selain Ilmu
Allah berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah
kepadaku ilmu“. (QS. Thaaha [20] : 114). Ini dalil tegas diwajibkannya menuntut
ilmu.
Orang Yang
Dipahamkan Agama Adalah Orang Yang Dikehendaki Kebaikan
Dari Mu’awiyah,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ
خَيْرًا
يُفَقِّهْهُ
فِى
الدِّينِ
“Barangsiapa
yang Allah kehendaki mendapatkan seluruh kebaikan, maka Allah akan memahamkan
dia tentang agama.” (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim No. 1037).
Yang dimaksud
faqih dalam hadits bukanlah hanya mengetahui hukum syar’i, tetapi lebih dari
itu. Dikatakan faqih jika seseorang memahami tauhid dan pokok Islam, serta yang
berkaitan dengan syari’at Allah. Demikian dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin
Shalih Al-‘Utsaimin dalam Kitabul ‘Ilmi (hal. 21).
Yang Paling
Takut Pada Allah Adalah Orang Yang Berilmu
Hal ini bisa direnungkan dalam ayat,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ
مِنْ
عِبَادِهِ
الْعُلَمَاءُ
“Sesungguhnya
yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama” (QS. Fathir:
28).
Ibnu Katsir
rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut
yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Karena semakin
seseorang mengenal Allah Yang Maha Agung, Maha Mampu, Maha Mengetahui dan Dia
disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah
lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah
sifat takutnya.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308).
Para ulama
berkata,
من كان بالله اعرف
كان
لله
اخوف
“Siapa yang
paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah”.
Orang Yang
Berilmu Akan Allah Angkat Derajatnya
Allah Ta’ala berfirman:
…يَرْفَعِ اللَّهُ
الَّذِينَ
آمَنُوا
مِنْكُمْ
وَالَّذِينَ
أُوتُوا
الْعِلْمَ
دَرَجَاتٍ..
“…Niscaya Allah
akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11).
Allah Subhanahu
wa Ta ‘ala berfirman,
وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ
أَوْ
نَعْقِلُ
مَا
كُنَّا
فِي
أَصْحَابِ
السَّعِيرِ
“Dan mereka berkata: “Sekiranya kami
mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk
penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala”. (QS. Al-Mulk : 10).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar