Alasan Kenapa Kamu Harus ke Tanah Suci Selagi Muda
Ada asumsi di tengah
masyarakat kita, bahwa berangkat ke Tanah Suci adalah hal yang wajib dilakukan
oleh mereka yang telah lanjut usia dan berilmu agama yang sudah cukup. Padahal
sejatinya, perintah untuk melaksanakan ibadah haji diwajibkan untuk semua umat
Islam yang telah mampu melakukannya—bukan hanya umat-Nya yang telah berumur.
Asumsi ini mendorong banyak anak muda cenderung berlomba-lomba untuk
mengunjungi tanah Eropa atau negeri ginseng ketimbang menyambangi tanah Tuhannya.
Jika ditelaah lebih jauh, ketika seseorang di usia yang masih prima memutuskan
untuk mengunjungi Mekkah, akan lebih banyak keuntungan yang akan dia peroleh
dibandingkan ketika dia menunggu dirinya menjadi renta, karena ibadah haji dan
umroh ini memerlukan kekuatan fisik yang prima.
1. Staminamu
Masih kuat, karena ke Tanah Suci bukan cuma soal Niat
Berbeda dengan ziarah biasa, berangkat ke Tanah
Suci—baik umroh maupun haji—membutuhkan kondisi fisik dan mental yang prima.
Perjalanan dari tanah air menuju Madinah kemudian ke Mekkah memakan waktu yang
tidak sebentar dan tentu saja akan menguras tenaga. Di Tanah Suci kamu juga
akan melakukan perjuangan yang tidak sedikit: tawaf mengelilingi Kakbah;
bolak-balik untuk Sa’i di Bukit Shofa-Marwah; dan berdesakan demi menyentuh
Hajar Aswad. Butuh energi yang tidak sedikit, bukan?
2. Kamu
Punya Kesempatan Lebih untuk Beribadah dengan Menyumbang Tenaga untuk Orang
Lain yang Membutuhkan Bantuan
Di Tanah Suci, kamu akan bertemu dengan orang-orang
berumur yang kondisi tubuhnya sudah tidak prima lagi. Kebugaran yang kamu
miliki sebagai seorang anak muda akan menjadi modal untukmu melakukan ibadah
jenis lain selama kunjunganmu: membantu mereka dengan energi mudamu!
3. Usia
Muda adalah Saat Menentukan Pilihan Jalan Hidup
Kamu yang masih muda, penuh dengan kerisauan dan
kegalauan duniawi. Tanah Suci adalah tempat yang paling tepat untukmu mengadukan segala beban di hati. Kamu bisa
berdoa langsung di depan Kakbah, merendahkan diri memohon petunjuk Allah untuk
pilihan jalan hidupmu. Tentu lebih baik mendapatkan pencerahan di awal masa
mudamu ketimbang ketika kamu sudah lanjut usia.
4. Jabal
Rahmah untuk Kegalauanmu Soal Jodoh
Tidak hanya soal masa depan, jodoh adalah hal lain
yang mengisi daftar kebimbangan masa muda. Berdoa di Jabal Rahmah adalah solusi
jitu untukmu yang galau soal pasangan hidup.
5. Kamu
bisa Melihat Contoh Nyata Konsistensi dalam Beribadah Sehari-Hari
Di sana, kamu akan melihat para pedagang Arab
menunaikan perintah Allah dalam keseharian mereka. Saat azan tiba, mereka akan
berhenti berdagang dan akan langsung menunaikan ibadah salat berjamaah sambil
meninggalkan dagangan mereka. Konsistensi mereka akan menginspirasimu untuk
menjadi hamba-Nya yang terus memperbaiki kualitas ibadah meski godaan duniawi
bertebaran di sekitarmu.
6. Perubahan
Positif yang akan Kamu Alami Setelahnya
Sepulang dari sana, kamu akan mengalami banyak
perubahan positif dan besarnya kekuasaan Allah. Perjuangan melaksanakan ibadah
di Tanah Suci akan meningkatkan keimananmu ke level yang baru. Dan karena kamu
masih muda, kamu akan punya lebih banyak waktu untuk menerapkan semua perubahan
positif yang kamu dapatkan saat ziarah di
Tanah
Suci.
Sedikit cerita, ada seorang anak muda bertanya
kepada seorang ustad :
“ Bukankah Allah itu dekat dengan kita, mengapa kita
mesti jauh-jauh pergi ke Saudia Arabia untuk Umroh dan berhaji?”
Pertanyaannya memang
sederhana, jawabannya bisa sederhana bisa tidak. Jawaban sederhana adalah bahwa
kita berangkat jauh ke Baitullah yang ada di negeri Saudi Arabia tak lain
karena menjalankan perintah Allah. Hal ini tertuang dalam QS Al hajj 27 “Dan
berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang
kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari
segenap penjuru yang jauh”.
Jadi
seperti shalat dan kewajiban agama lainnya lainnya, maka berhaji itu adalah
perintah Allah yang mesti kita laksanakan baik sukarela atau terpaksa. Hal ini
sebagai konsekuensi dari kedudukan kita sebagai hamba ALLAH SWT. Hamba yang
harus selalu mengabdi kepada Rabb-nya.
Jawaban
yang tidak sederhana adalah mencari makna dari perjalanan jauh ibadah haji ini.
Makna utamanya tak lain adalah gerak dan dinamika.
Pertama,
ibadah dalam Islam bersemangat dinamis. Rezeki pun didapat dengan gerak.
Rasulullah SAW memperumpamakan burung yang pergi pagi dengan perut kosong dan
pulang petang dengan perut yang telah berisi. Ibadah haji mengajarkan umat
untuk gigih bekerja dan berjuang keras dalam fase-fase geraknya.
Kedua,
perjalanan “jauh” menuju Baitullah sebenarnya adalah perjalanan “dekat” menuju
hadirat Allah SWT. Disunnahkan jika berpergian berdoa “Allahumma hawwin
‘alainaa safaronaa hadzaa wathwi ‘anna bu’dahu” (Ya Allah mudahkanlah
perjalanan kami dan dekatkanlah kejauhannya).
Ketiga,
setelah “dekat” dengan Allah, maka kita telah siap untuk melanjutkan perjalanan “jauh” ke keabadian
kelak (darul akhirah) yakni siap bergerak menuju surga jannatun na’im
bersama-sama sebagaimana berombongannya jama’ah haji “wasiiqal ladziinat taqau
robbahum ilaal jannati zumaroo..” (dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb
mereka, diantar bergerak menuju surga secara berombongan)—QS Az Zumar 73
Keempat,
dengan gerak seluruh organ tubuh melakukan fungsi fisiologisnya. Aliran darah
menjadi lancar. Enerji besar yang memberi spirit dan jiwa yang optimistik
dalam memandang kehidupan ke depan. Haji
memberi dorongan untuk hidup lebih kreatif dan
bergairah.
Kelima,
mereka yang mampu bergerak berarti sehat. Sehat jasmani yang berimplikasi pada
sehat rohani. Ibadah haji mensyaratkan jama’ah sehat. Kesehatan didapat jika
perut dan jiwa diisi oleh makanan dan nilai-nilai yang halal dan bersih. Ibadah
haji membuat badan sehat, jiwa kuat dan fikiran hebat.
KEUTAMAAN
HAJI DAN UMROH
a. Dari
Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasannya Rosulullah S.A.W bersabda :
“
Umrah ke umrah adalah penghapus dosa, dan haji yang mabrur tidak ada pahala
baginya selain surga” [1]
b. Dari
Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rosulullah S.A.W bersabda:
“
Iringilah antara ibadah haji dan umrah karena keduanya meniadakan dosa dan
kefakiran, sebagai alat peniup api menghilangkan kotoran (karat) besi, emas dan
perak, dan tidak ada balasan bagi haji mabrur melainkan surga” [2]
c. Dari
Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dia berkata, “ Aku mendengar Rosulullah S.A.W
bersabda :
“ Barang siapa melaksanakan haji ikhlas
karena ALLAH AZZA WA JALLAtanpa berbuat keji dan kefasiqan, maka ia kembali
tanpa dosa sebagaimana waktu ia di lahirkan oleh ibunya.”[3]
d. Dari
Ibnu Umar Radhiyallahu’anhum dari nabi S.A.W Bersabda :
“orang yang berperang di jalan Allah dan
orang yang menunaikan ibadah haji dan umroh, adalah delegasi Allah. (ketika)
Allah menyeru mereka, maka mereka memenuhi panggilan-Nya, maka Allah senantiasa
mengabulkan (permintaan mereka) .






Tidak ada komentar:
Posting Komentar