Sabtu, 01 Desember 2018

Alasan Kenapa Kamu Harus ke Tanah Suci Selagi Muda


Alasan Kenapa Kamu Harus ke Tanah Suci Selagi Muda

Ada asumsi di tengah masyarakat kita, bahwa berangkat ke Tanah Suci adalah hal yang wajib dilakukan oleh mereka yang telah lanjut usia dan berilmu agama yang sudah cukup. Padahal sejatinya, perintah untuk melaksanakan ibadah haji diwajibkan untuk semua umat Islam yang telah mampu melakukannya—bukan hanya umat-Nya yang telah berumur. Asumsi ini mendorong banyak anak muda cenderung berlomba-lomba untuk mengunjungi tanah Eropa atau negeri ginseng ketimbang menyambangi tanah Tuhannya. Jika ditelaah lebih jauh, ketika seseorang di usia yang masih prima memutuskan untuk mengunjungi Mekkah, akan lebih banyak keuntungan yang akan dia peroleh dibandingkan ketika dia menunggu dirinya menjadi renta, karena ibadah haji dan umroh ini memerlukan kekuatan fisik yang prima.


1.     Staminamu Masih kuat, karena ke Tanah Suci bukan cuma soal Niat


Berbeda dengan ziarah biasa, berangkat ke Tanah Suci—baik umroh maupun haji—membutuhkan kondisi fisik dan mental yang prima. Perjalanan dari tanah air menuju Madinah kemudian ke Mekkah memakan waktu yang tidak sebentar dan tentu saja akan menguras tenaga. Di Tanah Suci kamu juga akan melakukan perjuangan yang tidak sedikit: tawaf mengelilingi Kakbah; bolak-balik untuk Sa’i di Bukit Shofa-Marwah; dan berdesakan demi menyentuh Hajar Aswad. Butuh energi yang tidak sedikit, bukan?

2.     Kamu Punya Kesempatan Lebih untuk Beribadah dengan Menyumbang Tenaga untuk Orang Lain yang Membutuhkan Bantuan


Di Tanah Suci, kamu akan bertemu dengan orang-orang berumur yang kondisi tubuhnya sudah tidak prima lagi. Kebugaran yang kamu miliki sebagai seorang anak muda akan menjadi modal untukmu melakukan ibadah jenis lain selama kunjunganmu: membantu mereka dengan energi mudamu!

3.     Usia Muda adalah Saat Menentukan Pilihan Jalan Hidup


Kamu yang masih muda, penuh dengan kerisauan dan kegalauan duniawi. Tanah Suci adalah tempat yang paling tepat untukmu  mengadukan segala beban di hati. Kamu bisa berdoa langsung di depan Kakbah, merendahkan diri memohon petunjuk Allah untuk pilihan jalan hidupmu. Tentu lebih baik mendapatkan pencerahan di awal masa mudamu ketimbang ketika kamu sudah lanjut usia.

4.     Jabal Rahmah untuk Kegalauanmu Soal Jodoh


Tidak hanya soal masa depan, jodoh adalah hal lain yang mengisi daftar kebimbangan masa muda. Berdoa di Jabal Rahmah adalah solusi jitu untukmu yang galau soal pasangan hidup.


5.     Kamu bisa Melihat Contoh Nyata Konsistensi dalam Beribadah Sehari-Hari


Di sana, kamu akan melihat para pedagang Arab menunaikan perintah Allah dalam keseharian mereka. Saat azan tiba, mereka akan berhenti berdagang dan akan langsung menunaikan ibadah salat berjamaah sambil meninggalkan dagangan mereka. Konsistensi mereka akan menginspirasimu untuk menjadi hamba-Nya yang terus memperbaiki kualitas ibadah meski godaan duniawi bertebaran di sekitarmu.

6.     Perubahan Positif yang akan Kamu Alami Setelahnya


Sepulang dari sana, kamu akan mengalami banyak perubahan positif dan besarnya kekuasaan Allah. Perjuangan melaksanakan ibadah di Tanah Suci akan meningkatkan keimananmu ke level yang baru. Dan karena kamu masih muda, kamu akan punya lebih banyak waktu untuk menerapkan semua perubahan positif yang kamu dapatkan saat ziarah di Tanah Suci.

Sedikit cerita, ada seorang anak muda bertanya kepada seorang ustad :
“ Bukankah Allah itu dekat dengan kita, mengapa kita mesti jauh-jauh pergi ke Saudia Arabia untuk Umroh dan berhaji?”
Pertanyaannya memang sederhana, jawabannya bisa sederhana bisa tidak. Jawaban sederhana adalah bahwa kita berangkat jauh ke Baitullah yang ada di negeri Saudi Arabia tak lain karena menjalankan perintah Allah. Hal ini tertuang dalam QS Al hajj 27 “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh”.
Jadi seperti shalat dan kewajiban agama lainnya lainnya, maka berhaji itu adalah perintah Allah yang mesti kita laksanakan baik sukarela atau terpaksa. Hal ini sebagai konsekuensi dari kedudukan kita sebagai hamba ALLAH SWT. Hamba yang harus selalu mengabdi kepada Rabb-nya.
Jawaban yang tidak sederhana adalah mencari makna dari perjalanan jauh ibadah haji ini. Makna utamanya tak lain adalah gerak dan dinamika.
Pertama, ibadah dalam Islam bersemangat dinamis. Rezeki pun didapat dengan gerak. Rasulullah SAW memperumpamakan burung yang pergi pagi dengan perut kosong dan pulang petang dengan perut yang telah berisi. Ibadah haji mengajarkan umat untuk gigih bekerja dan berjuang keras dalam fase-fase geraknya.
Kedua, perjalanan “jauh” menuju Baitullah sebenarnya adalah perjalanan “dekat” menuju hadirat Allah SWT. Disunnahkan jika berpergian berdoa “Allahumma hawwin ‘alainaa safaronaa hadzaa wathwi ‘anna bu’dahu” (Ya Allah mudahkanlah perjalanan kami dan dekatkanlah kejauhannya).
Ketiga, setelah “dekat” dengan Allah, maka kita telah siap untuk  melanjutkan perjalanan “jauh” ke keabadian kelak (darul akhirah) yakni siap bergerak menuju surga jannatun na’im bersama-sama sebagaimana berombongannya jama’ah haji “wasiiqal ladziinat taqau robbahum ilaal jannati zumaroo..” (dan orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka, diantar bergerak menuju surga secara berombongan)—QS Az Zumar 73
Keempat, dengan gerak seluruh organ tubuh melakukan fungsi fisiologisnya. Aliran darah menjadi lancar. Enerji besar yang memberi spirit dan jiwa yang optimistik dalam  memandang kehidupan ke depan. Haji memberi dorongan untuk hidup lebih kreatif dan  bergairah.
Kelima, mereka yang mampu bergerak berarti sehat. Sehat jasmani yang berimplikasi pada sehat rohani. Ibadah haji mensyaratkan jama’ah sehat. Kesehatan didapat jika perut dan jiwa diisi oleh makanan dan nilai-nilai yang halal dan bersih. Ibadah haji membuat badan sehat, jiwa kuat dan fikiran hebat.

KEUTAMAAN HAJI DAN UMROH
a.     Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwasannya Rosulullah S.A.W bersabda :
“ Umrah ke umrah adalah penghapus dosa, dan haji yang mabrur tidak ada pahala baginya selain surga” [1]
b.     Dari Ibnu Mas’ud Radhiyallahu’anhu, bahwasanya Rosulullah S.A.W bersabda:
“ Iringilah antara ibadah haji dan umrah karena keduanya meniadakan dosa dan kefakiran, sebagai alat peniup api menghilangkan kotoran (karat) besi, emas dan perak, dan tidak ada balasan bagi haji mabrur melainkan surga” [2]
c.      Dari Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, dia berkata, “ Aku mendengar Rosulullah S.A.W bersabda :
“ Barang siapa melaksanakan haji ikhlas karena ALLAH AZZA WA JALLAtanpa berbuat keji dan kefasiqan, maka ia kembali tanpa dosa sebagaimana waktu ia di lahirkan oleh ibunya.”[3]

d.     Dari Ibnu Umar Radhiyallahu’anhum dari nabi S.A.W Bersabda :
“orang yang berperang di jalan Allah dan orang yang menunaikan ibadah haji dan umroh, adalah delegasi Allah. (ketika) Allah menyeru mereka, maka mereka memenuhi panggilan-Nya, maka Allah senantiasa mengabulkan (permintaan mereka) .


Tidak ada komentar:

Posting Komentar