RUKUN UMROH
Umroh merupakan
ziarah islami secara singkat, Umroh merupakan ibadah kepada Allah (SWT). Hal
ini merupakan ajaran yang di tetapkan Rasululloh (SAW) dan sunahnya. Ziarah tersebut
adalah kunjungan ke rumah Allah SWT dan dapat dilakukan kapan saja stiap
tahunnya. Hal ini disebut dengan 'ziarah kecil' dibandingkan dengan 'ziarah
besar' Haji. Namun, ziarah kecil ini memegang nilai dan kebajikan yang besar di
mata Allah SWT.
Ibadah Umrah terdiri
dari empat pilar dasar:
1) Ihram
Ihram merupakan
keadaan seseorang berniat untuk melaksankan ibadah umrah/haji . untuk berihram seseorang harus mengganti
pakaiannya dan mandi . menunjukan dirinya dalam keadaan bersih. Laki-laki
mengganti pakaiannya dengan dua helai kain, Rida dan Izar, sedangkan kaum wanita
dapat memakai pakaian apapun asalkan menutup tubuh dan kepala mereka. Wanita
yang sedang menstruasi atau pendarahan setelah melahirkan juga disarankan untuk
mandi junub.
Di miqot, kita harus
berniat dan mengucapkan kata-kata:
“Labbaik Alloohumma bi ' Umroh”
(Aku sambut panggilan-Mu ya Alloh
untuk berumroh)
Setelah ini, kita
harus mengucapkan Talbiyah, sesuai dengan Sunnah:
“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa
syariika laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”
(Aku menjawab
panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu,
tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab
panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya
milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).”
Disarankan untuk
terus membaca Talbiyah dari saat memasuki Ihram sampai dengan pelaksanaan
thawaf.
2) Tawaaf (mengelilingi rumah Allah S.W.T
Orang yang berumroh diwajibkan
memasuki Masjidil Haram dengan kaki kanan terlebih dahulu dan mengucapkan:
“Bismillaah
wassalaatu wassalaam ‘ala Rasulullooh. Alloohummagfirli dzunuubi waftahli
abwaaba rahmatika. A’udzuubillaahil’adzim wa bi wajhiil kariim wa bi sultaaniil
‘qadiim minashaytaanil rajiim”
(Dengan menyebut
nama Allah, dan keberkahan serta kedamaian kepada Rasululloh. Ya Allah, ampuni
dosa-dosaku dan bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu. Aku berlindung kepada
Allah yang Maha Kuasa dan Yang Maha Mulia serta kekuasaan-Nya yang abadi dari
setan yang terkutuk).”
Setelah itu, orang
yang berumroh dapat menyentuh Batu Hitam (Hajar Aswad) dan memulai thawaf.
Idealnya, Hajar Aswad harus disentuh dengan menggunakan tangan kanan lalu
dicium. Akan tetapi jika tidak dapat dicium langsung, dapat juga disentuh
dengan tangan kemudian mencium tangan tersebut. Terdapat kebaikan dalam
menyentuh Hajar Aswad. Jika ia bahkan tidak dapat menyentuh batu tersebut
dengan tangan, dapat menghadapkan tangannya ke arah batu dan berkata
"Allahu Akbar". Kemudian memulai thawaf-mengambil putaran
mengelilingi Ka'bah, dengan Ka'bah berada di sebelah kiri. Kita harus
berhati-hati untuk tidak menyentuh kain Ka'bah ketika thawaf, karena mengandung
wewangian dan menyentuhnya dapat membuat wangi tersebut berpindah kepada kita
dan membuat keadaan Ihram batal.
Lelaki harus menjaga
bahu kanannya tetap terbuka saat thawaf, yang dikenal sebagai Idtibaa. Hal ini
dilakukan dengan menempatkan Ridaa di bawah ketiak kanan dan mengaitkannya ke
bahu kiri. Selain itu, lelaki harus berlatih 'raml' di tiga putaran pertama
thawaf, yang pada dasarnya adalah berjalan cepat dengan mengambil langkah
kecil. Untuk putaran-putaran selanjutnya, mereka dapat berjalan dengan
kecepatan normal.
Setelah
menyelesaikan tujuh putaran thawaf, kemudian harus pergi ke Maqam Ibrahim dan
mengucapkan kata-kata berikut:
“Dan jadikanlah
sebagian maqam Ibrahim [atau batu dimana Ibrahim berdiri ketika membangun
Ka'Bah] sebagai tempat shalat (untuk sebagian sholatmu, seperti dua rakaat
setelah thawaf mengelilingi Ka'bah di Mekkah)” (Quran 2:125)
Peziarah kemudian
harus melaksanakan sholat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Jika yang
sulit, dapat melaksanakan sholat tersebut di bagian masjid yang lain. Pada
rakaat pertama, yang dibaca adalah surat Al-Kafirun (109) dan untuk rakaat
kedua, membaca surat Al-Ikhlas (112). Setelah melaksanakan sholat, kembali ke
Hajar Aswad dan menyentuhnya jika memungkinkan.
Peziarah kemudian
harus menuju tempat Sa’i (Masaa) dan ketika dia telah mendekati bukit Safa,
harus membaca: "Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar
Allah.” (Quran 2:158)
Dan
“Nabda’u bima
badallooh bihi”
(Kita mulakan dengan
itu dimana Allah telah mulakan)
Setelah itu seseorang
yang berumroh harus memanjat ke atas Bukit Safa menuju tempat dimana Ka’bah
dapat terlihat. Lalu dia harus menghadapi Ka'bah, mengangkat tangannya, dan
berdoa kepada Allah S.W.T. Doa yang dibaca boleh apapun sesuai keinginan. Menurut
Hadist, Rasululloh S.A.W membaca doa berikut ini sebagai pujian :
“Laa ilaahaillalloh
wahdahulaa shariikalah, lahulmulku, wa lahulhamdu, wa huwa ‘ala kulli shai’in
qadiir. Laa ilaahaillalloh wahdah, anjaza wa’dah, wa nasara ‘abdah, wa hazamaa
al-ahzaaba wahdah”
(Tiada sesembahan
yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Milik-Nya lah segala kerajaan dan segala pujian untuk-Nya. Dia yang
menghidupkan dan yang mematikan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.
Tiada sesembahan
yang berhak disembah kecuali hanya Allah semata. Dialah yang telah melaksanakan
janji-Nya, menolong hamba-Nya dan mengalahkan tentara sekutu dengan sendirian.”
(Sahih Muslim, 1218)
Doa ini harus
diulang sebanyak 3 kali; melakukan dzikir, berdoa, melakukan dzikir, berdoa
(dan seterusnya). Kemuadian harus langsung turun ke Marwah dan lelaki berlari
di antara lampu hijau. Jaraknya ditandai oleh dua tanda berwarna hijau - lelaki
harus berlari hingga mencapai tanda kedua lalu kembali berjalan biasa ke bukit
Marwah dan mendakinya. Di sana, peziarah harus menghadap ke kiblat dan membaca
apa yang dia membaca di Safa. Setelah itu, peziarah harus turun lagi dan
kembali menuju Safa. Setelah mencapai Safa, peziarah harus mengulangi apa yang
ia lakukan pertama kali dan mengulanginya kembali ketika ia kembali ke Marwah
sebanyak tujuh putaran (Satu putaran terhitung mulai dari Safa menuju Marwah).
Tahap terakhir,
setelah menyelesaikan tujuh putaran, peziarah diharuskan untuk memotong rambut
mereka. Para lelaki diwajibkan untuk mencukur rambut mereka atau memotong
rambut mereka seluruhnya dengan panjang yang sama. Para wanita diharuskan
memotong rambutnya sepanjang satu ruas jari.
Dengan tindakan
terakhir ini, peziarah telah resmi melengkapi Umrahnya.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar